Saat ini DPR sedang berpolemik, maju salah mundur salah. DPR yang harusnya menjadi tolak ukur untuk membantu masyarakat, namun kini berbalik seakan-akan menjadi musuh masyarakat. Saya kemudian cek di beberapa komentar, baik itu Instagram, TikTok, Threads, Twitter rata-rata sama.
Orang Tolol Sedunia
Beberapa waktu lalu salah satu politikus dan pengusaha Indonesia, sekaligus menjabat sebagai wakil ketua komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan mengatakan hal yang cukup kontroversial. Soalnya ini buntut dari masyarakat yang menggaungkan untuk membubarkan DPR, sama yang pernah dikatakan almarhum Gusdur dulu.
Ia mengatakan mental seperti itu adalah mental manusia tertolol sedunia. Saya kutip dari kompas.

Dikritik Netizen
Tidak perlu menunggu lama setelah wakil terhormat ini mengatakan hal demikian, beritanya langsung santer dimana-mana. Mulai dari media elektronik, bahkan hingga platform X. Bahkan ada salah satu netizen di platform Instagram yang menantang debat Ahmad Sahroni. Jika saya merujuk dari berita Kompas, namanya adalah Salsa Erwina Hutagulung.
Kemudian lewat video instagram tersebut, dia langsung membalas cuitan Ahmad Sahroni. Berikut saya kutip dari Kompas.

Intinya adalah mbak Salsa ini merasa ke-trigger terhadap pernyataan dari Ahmad Sahroni. Dia bahkan berani menantang debat tapi dengan juri yang lebih professional dan disaksikan seluruh masyarakat Indonesia. Ia meminta pengusaha Jakarta itu untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya.
Realita di Masyarakat
Tahun 2025 bisa jadi menjadi tahun yang sangat sulit khususnya bagi para karyawan swasta. Selain dibebani pajak yang semakin banyak, dan beban perusahaan yang keuntungannya makin sedikit. Namun tiba-tiba ada berita kenaikan gaji DPR 2025 yang naiknya signifikan dan langsung disahkan.

Dikutip dari BBC upah minimum 2025 naik 6,5% tapi realitnya kenaikan tersebut dianggap tidak ada artinya oleh para kelompok pekerja. Kita tahu ada pekerja formal dan informal. Nyatanya tidak semua perusahaan melakukan penyesuaian gaji sesuai dengan inflasi yang ada. Jangankan mau profit, bertahan hidup untuk 2 tahun ke depan bagi perusahaan saja ada yang sangat sulit.
DRP Dinilai Tidak Punya Empati

Kalau menurut salah satu portal berita elektronik, Kendari Pos, katanya DPR dinilai kehilangan empati dan akal sehat. Bagaimana tidak? Di tengah isu ekonomi global yang tidak pasti, tapi wakil rakyat yang terhormat ini malah sepihak minta naik gaji dan tunjangan.

Kalau menurut Tempo, tunjangan rumah anggota DPR untuk saat ini nih, katanya kurang tepat. Masa dapat tunjangan rumah Rp 50 juta, saat ekonomi lagi susah? Masyarakat saja sedang sulit cari beras premium dan masih ada puluhan ribu orang sedang bergelut mencari pekerjaan di luar sana.
Akhir kata, semoga polemik ini segera berakhir dan semoga pemerintah makin solid dan kondusif. Karena saya masih tolol jadi saya lebih memilih DPR dibubarkan saja kalau kualitasnya seperti ini. Walaupun saya tolol tapi setidaknya saya sudah bekerja, bayar pajak tepat waktu, dan tidak membebani masyarakat lain.