Saya biasanya jarang membicarakan konten politik di blog ini, tapi kali ini saya harus berani bicara sesuai fakta. Disclaimer ini bukan tentang validasi atau keberpihakan, tapi mari kita gunakan akal dan logika, agar tidak berlarut-larut terhadap kepentingan politik lain. Mari kita bahas.
Pertama Kali Mencuat ke Publik
Jika saya cek di google, kasus ijazah Jokowi ini pertama kali ada di publik sekitar tahun 2022 silam. Menurut sumbernya, kasus ini sebenarnya sempat mereda dan tidak terlalu berlanjut secara signifikan. Bahkan hingga saat ini tahun 2025 masih bergulir kasus tersebut.
Kata UGM

Pada tahun 2022 lebih tepatnya 11 Oktober disitu tertulis pada artikel tersebut bahwa rektor UGM meyakini keaslian ijazah sarjana dari Ir. Joko Widodo. Di situ rektor UGM sudah menegaskan bahwa Jokowi adalah alumnus UGM.
Kata Penggugat
Kita bisa lihat hampir setiap hari bahwa kasus ijazah Jokowi diperdebatkan bahkan hingga hari ini dan selalu di putar di salah satu stasiun televisi di Indonesia. Mereka para penggugat meyakini kalau ijazah tersebut palsu dan mengklaim punya beberapa bukti khusus. Bahkan kasusnya sangat lama, hingga saya sampai bosan mengikutinya.
Simple Logic
Oke, jadi cara kerja Polisi adalah ketika kita lapor ke penegak hukum kemudian penegak hukum cari pakar pengetahuan untuk mengetahui keaslian dan fakta dari kasus tersebut. Yang menjadi masalahnya adalah fakta dan keaslian sudah didapat, pihak UGM mengatakan ijazah asli. Menurut saya seharusnya sudah selesai titik sampai disitu. Kita tidak perlu debat kusir sampai capek-capek.
Arena Cuan Televisi
Saya sebenarnya cukup menyayangkan salah satu stasiun televisi yang selalu gencar menayangkan ijazah palsu Jokowi. Bukannya membela Jokowi, tapi saya bisa lihat ada agenda tersembunyi dari pemimpin redaksi untuk memanfaatkan kegaduhan yang ada untuk mencari cuan. Coba kamu perhatikan di stasiun televisi tersebut ketika sedang debat kusir, ada berapa iklan yang masuk ketika acara?
Ya, kamu bakal melihat anomali di sana. Televisi tersebut memasang iklan yang cukup banyak dan saya cukup yakin rating programnya pasti sangat bagus. Kita lihat saja, yang diundang ke forum televisi live tersebut orangnya itu-itu saja dan selalu berakhir dengan debat kusir. Mau itu format pembawa acara si A, pembawa acara si B, hingga si Z.
Waktu saya istirahat kerja, kemudian televisi di kantin mempertontonkan debat kusir tersebut, astaga iklan yang ada itu sampai 2-4 kali per 1x break dari iklan guys.
Sudahlah…
Saya lebih berpesan sama kalian yang benci atau tidak suka dengan ijazah Jokowi. Please, Pak Jokowi sudah tidak menjabat presiden lagi, untuk apa hal kecil seperti ini diperdebatkan? Kalian hanya diperdaya oleh beberapa oknum demi kepentingan politik mereka + diperdaya oleh stasiun televisi itu agar menjadi sumber cuan iklan mereka.

Mau presiden siapapun juga ingatlah, kalian harus cari makan sendiri dan cari uang sendiri. Berdemokrasi itu boleh, tapi saya tidak menyarankan untuk debat kusir yang tidak ada akhir ini. Yang ada kamu hanya diperdaya menjadi alat cuan oleh stasiun televisi agar rating iklannya tinggi dan makin cuan karena banyak yang nonton.
Kita harus tahu kalau penguasa tidak selamanya 100% benar seperti nabi / rasul. Mereka juga punya salah. Kita juga jangan terlalu munafik dengan masalah sepele seperti ijazah. SIM aja kadang suka nembak? Antrian ke Samsat aja masih sogok pungli?