WNI Ditembak Aparat Malaysia, 1 Tewas

Beberapa hari lalu ada berita yang cukup mengejutkan, yaitu berita penembakan aparat Malaysia. Dari headline yang ada, informasi valid yang saat ini beredar adalah adanya 1 orang korban tewas, dan 4 lainnya korban luka-luka.

Kejadian

Menurut kementrian P2MI, insiden ini terjadi pada 24 Januari 2025 pukul 03.00 dini hari waktu setempat. Pada saat itu petugas patroli maritim Malaysia menembaki kapal yang berisi 5 imigran pekerja Indonesia.

Jalan Tikus

Dari beberapa narasumber yang saya lihat, beberapa dari mereka mengatakan memang jalur yang dilalui tersebut disebut dengan jalan tikus. Jalan tersebut melewati selat malaka, dimana diklaim sudah menjadi jalur yang biasa dilalui oleh masyarakat setempat.

Tidak Terdokumentasi

Memang dibenarkan bahwa imigran yang berisi 5 orang dengan menaiki kapal tersebut tidak mempunyai dokumen yang sah. Jadi bisa kita katakan kalau 5 orang ini adalah imigran ilegal yang mungkin pada saat itu ingin memasuki kawasan Malaysia. Melihat perspektif ini saya mulai paham bahwa kenapa alasan aparat Malaysia menembaki kapal tersebut.

Perspektif HAM

Kita percaya semua mempunyai HAM atau hak asasi manusia. Sekalipun dia koruptor atau pelaku kejahatan kelas kakap, kita menghargai HAM tersebut, ya paling tidak manusia di Indonesia diajarkan hal tersebut ya.

Namun ketika membaca dan menonton berita ini saya balik lagi ke pertanyaan, apa benar di Malaysia tidak ada yang namanya HAM? Kalau dilihat Malaysia itu adalah monarki konstitusional, apakah benar mereka tidak mengakui adanya hak asasi manusia?

Saya mencoba mencari jawabannya menggunakan AI Gemini. Saya terkejut bahwa output hasil tersebut menyatakan bahwa Malaysia mengakui adanya hak asasi manusia.

Namun mari kita lihat kelanjutan dari outputnya.

Artinya sesuatu yang berhubungan dengan kemanan negara atau ketertiban umum, maka hal tersebut (hak asasi manusia) tidak berlaku di Malaysia.

Kesimpulan

Artinya kita tidak bisa menyalahkan 100% ke Malaysia, walaupun aksi langsung tembak ini menurut saya terlalu berlebihan. Punya kekuatan lebih bukan berarti untuk main hakim sendiri, paling tidak orang tersebut harus di bawa dan di hakimi terlebih dahulu sesuai dengan haknya, kemudian dijatuhi hukuman menurut undang-undang yang berlaku.

Semoga di kemudian hari ada perjanjian khusus yang ditandatangani oleh kedua belah pihak di selat malaka (Indonesia dan Malaysia) bahwa jika ada pekerja imigran seharusnya tidak perlu hingga ditembak mati. Karena mereka juga manusia yang sedang mencari nafkah dan keluarganya menunggu di rumah. Kekerasan tidak akan mengatasi masalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *